Humas Kutim

  • SUKSESKAN GERBANG DESA MADU (GRAKAN PEMBANGUNAN DESA MANDIRI DAN TERPADU)

Puisi Penggugah Kalbu Di Apel Ikrar Kebangsaan Nusantara Bersatu Kutai Timur

Pembacaan puisi di ikrar nusantara bersatu (syahid dan hasim humas)
 
 
SANGATTA- Sajak-sajak indah dari beberapa puisi yang dibacakan oleh beberapa siswa dan tokoh masyarakat saat orasi Ikrar Nusantara Bersatu di Halaman Kantor Bupati semakin meneduhkan jiwa dan sanubari ribuan masyarkat yang hadir, Rabu (30/11/31). Bait puisi indah yang dibacakan penuh ekspresi itu disuguhkan oleh lima perwakilan elemen masyarakat. 
 
Yakni oleh Maratus Tsani Jamilah dari SD 011 Sangatta Utara yang membacakan puisi berjudul “Pahlawanku” karya Reza Hidayat dilanjutkan dengan lagu Bagimu Negeri. Dilanjutkan puisi dari Lady Caten Karenda siswi SMP 1 Sangatta Utara dengan puisi berjudul “Karena Pahlawanku” karya Rayhadi disambung dengan menyanyikan lagi Satu Nusa Satu Bangsa. Puisi dari Nur Azizah asal SMA 2 Sangatta Utara, berjudul “Indonesiaku” karya Rubito dengan penutup lagu Rayuan Pulau Kelapa. Selain itu juga ada puisi dari Megawati dari STIE Nusantara berjudul “Jiwa-Jiwa Yang Gugur” dilanjutnya menyanyikan lagu Garuda Pancasila serta puisi yang dibacakan oleh Hj Hanasiah berjudul “Indonesia Bersinar” dan diakhiri dengna lagu “Berkibarlah Benderaku”.
 
Seluruh puisi yang dibacakan seolah-olah menjadi magnet yang merekatkan perasaan satu jiwa untuk satu Indonesia. 
 
"Oh pahlawanku, bagaimana ku bisa membalas jasa-jasamu yang telah kau berikan untuk bumi pertiwi," bunyi petikan puisi Pahlawanku yang dibacakan oleh oleh Maratus Tsani Jamilah. 
 
“Karenamu Pahlawanku sekarang aku bisa hidup tenang tanpa kerja rodi romusa tanpa jerit takut rakyat tertembak,” kata Lady Caten Karenda membacakan puisi berjudul Karenamu Pahlawanku. 
 
“Kala ku dengar ada yang mencibirmu, kala ku dengar ada yang hendak mengoyakmu, mendidih darah merah ini, tak kan ku biarkan seorangpun mengganggumu Indonesiaku, Kau kan ku bela selalu," petikan puisi berjudul Indonesiaku yang dibacakan Nur Azizah.
 
“Jiwa jiwa yang gugur, mereka gugur untuk satu nama, mereka berkorban untuk satu nama, mereka menangis untuk satu nama, Indonesia, Indonesia!" sebut Megawati sesuai puisi karya Rayhandi berjudul Jiwa Jiwa Yang Gugur.
 
"Bangkitlah generasiku menjadi teranglah, sinari negerimu Indonesia tercinta mulai dari keluarga, membangun karakter bangsa indonesia" kata Hanasiah membacakan puisi Indonesiaku Bersinar.
 
Sebelum pembacaan puisi berlangsung, acara dimulai dengan orasi kebangsaan dari Bupati Kutim Ismunandar, perwakilan Forum Kerukunan Umat Beragama. Hingga pembacaan ikrar oleh Ketua DPRD Kutim Mahyunadi yang diikuti oleh seluruh masyarakat yang hadir dan dilanjutkan dengan penandatanganan ikrar. 
 
Acara ditutup dengan pembacaan doa bersama yang diwakili dari masing-masing agama. Yaitu Islam, Katolik, Protestan, Hindu, Budha, Kong Hu Chu. Pembacaan puisi tidak hanya disaksikan oleh peserta apel dan Bupati Kutim, namun juga Wakil Bupati Kutim Kasmidi Bulang, Dandim 0909 Sangatta Letkol Inf Setyo Wibowo, Danlanal Sangatta Letkol Laut (P) Mulyan Budiarta, Kapolres Kutim AKBP Rino Eko Cahyaning, para Asisten, sejumlah Pimpinan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD), Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (FKPD), serta personel TNI Polri, pihak swasta, pelajar, PNS dilingkup Pemkab Kutim. (hms7)
 


Berita Terkait



Agar Fokus Dan Tuntas Masalah Listrik Dan Air Bersih Kembali Dibahas

Rapat coffee morning memb...

Selasa, 24 Mei 2016 11:29:05

Puisi Penggugah Kalbu Di Apel Ikrar Kebangsaan Nusantara Bersatu

Pembacaan pu...

Kamis, 1 Desember 2016 09:43:38

Defisit Hambat Program Akreditasi A Seluruh Sekolah.

Iman Hidayat...

Senin, 5 Desember 2016 10:16:05

Dekranasda Kutim Coba Potensi Enceng Gondok - Untuk Jadi Barang IKM Masyarakat

Pengurus dek...

Selasa, 6 Desember 2016 09:13:57