Humas Kutim

  • SUKSESKAN GERBANG DESA MADU (GRAKAN PEMBANGUNAN DESA MANDIRI DAN TERPADU)

Padi Sawah Terserang Hama - Dinas Pertanian Distribusikan Pestisida Pertanian

Plt Dinas Pertanian Marjoni (Foto:Syahid Humas)
 
 
SANGATTA- Hal yang paling dikhawatirkan oleh petani diwaktu memasuki musim tanam salah satunya adalah serangan hama. Serangan hama pada padi sawah tentunya akan mengurangi produksi beras, bahkan bisa menyebabkan gagal panen. Menyikapi persoalan itu, Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Pemkab Kutim) melalui Dinas Pertanian segera menyalurkan bantuan berupa pestisida kepada kelompok tani sebagai antisipasi penyelematan tanaman pagi.
 
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pertanian Marjoni menjelaskan, setelah mendapat laporan dari petani, petugas penyuluh lapangan (PPL) langsung melakukan peninjauan lapangan. Karena ada sejumlah desa yang tanaman padi sawahnya terserang beberapa jenis hama perusak.
 
“Kami sempat mendatangi kelokasi yang terserang hama meliputi tiga desa yaitu Desa Teluk Pandan, Suka Rahmat dan Suka Damai. Diperkirakan serangan mencapai luasan 10 Hektare (Ha). Adapun hama yang menyerang seperti hama putih, menyebabkan daun berlubang dan bercak-bercak, lalu hama pengerek batang dimana efeknya membuat putus jaringan padi dan berakibat matinya tanaman padi,” katanya, beberapa waktu lalu.
 
Para petani telah melakukan pencegahan menggunakan obat yang ada, namun tidak berdampak apa-apa. Untuk itu agar tanaman padi petani dapat diselamatkan, maka Dinas Pertanian memberikan bantuan sejumlah pestisida. Dia mengatakan stok pestisida yang didistribusikan masih merupakan pengadaan 2016 lalu. Stok yang diberikan 10 liter perkelompok tani, di tiga desa. Total luasan lahan pertanian disana 100 Ha dan yang terserang hama ada kurang lebih 10 Ha. Terbagi tiap kelompok tani. 
 
“Ada sawah yang terkena (hama) 2 Ha, ada pula yang 8 Ha,” ujarnya. 
 
Selain memberikan bantuan pestisida, Dinas pertanian juga tak lupa mengingatkan para petani terus memperhatikan pemilihan benih yang bagus. Selanjutnya mengolah tanah dengan benar, melakukan pemeliharan tanaman yang baik serta menyediakan obat-obatan untuk tanaman. Sehingga nanti mendapatkan hasil yang memuaskan. Menurut Mardjoni, selain berharap bantuan obat tanaman, petani juga menginginkan adanya bantuan benih dari pemerintah. Saat pengecekan lahan, terlihat bibit yang digunakan kebanyakan jenis atau varitas Cigeluis dan Ciherang. 
 
“Jika hasil pengobatan ini gagal tentunya warga akan kehilangan benih yang ditanam. Untuk itu warga berharap nantinya ada bantuan bibit. Berdasarkan perhitungan sementara kami, perhektar menggunakan bibit sejumlah 25 kilo dan sekarang harga perkilo bibit kisaran Rp 10 ribu rupiah. Maka untuk 10 Ha yang kena hama tadi diperkirakan memakan dana antara Rp 50-100 juta rupiah”, terangnya. (hms7)
 
 


Berita Terkait



Agar Fokus Dan Tuntas Masalah Listrik Dan Air Bersih Kembali Dibahas

Rapat coffee morning memb...

Selasa, 24 Mei 2016 11:29:05

Puisi Penggugah Kalbu Di Apel Ikrar Kebangsaan Nusantara Bersatu

Pembacaan pu...

Kamis, 1 Desember 2016 09:43:38

Defisit Hambat Program Akreditasi A Seluruh Sekolah.

Iman Hidayat...

Senin, 5 Desember 2016 10:16:05

Dekranasda Kutim Coba Potensi Enceng Gondok - Untuk Jadi Barang IKM Masyarakat

Pengurus dek...

Selasa, 6 Desember 2016 09:13:57