SANGATTA- Dinas Kesehatan Kutim mencatat ada sekitar 53 penderita kusta di daerah ini (kusta Indonesia 20.032 kasus, dan kusta dunia  219.075 kasus, 2011). Terdeteksi positif 32 penderita kusta tahun 2012 dengan prevalensi 0,74 per 10.000 penduduk, dan baru ditemukan  lagi 21 kasus penderita kusta  dengan case deteksi rate (CDR) atau positif menderita kusta sekitar 4,87 per 100.000 penduduk.

“Dari 21 kasus kusta temuan baru tersebut, 18 di antaranya masuk kusta basah atau multi basiler (MB) dan 3 kasus kusta kategori pausi basiler(PB),” kata Kepala Dinas Kesehatan (Diskes) dr Aisyah dalam sambutan ketika membuka pelatihan dokter Puskesmas di Hotel Kristal, Sangatta Senin (10/6) lalu.

Menurutnya, penderita kusta di Kutim tersebar di 15 Kecamatan (15 Puskesmas). Jumlah kasus baru paling banyak ditemukan di Teluk Lingga, Sandaran, Sangata Selatan, Muara Bengkal, Muara Ancalong, Kongbeng, Teluk Pandan dan Kecamatan Telen. Permasalahan penanggulangan penyakit kusta di Kutim menurut Aisyah,  antara lain adalah rendahnya pengetahuan masyarakat; kurangnya tenaga terlatih di Puskesmas serta kurangnya komitmen politis dari daerah. Disamping itu meningkatnya kasus baru itu juga disebabkan banyaknya migrasi penduduk dari daerah endemis tinggi seperti Jawa Timur dan Sulawesi Selatan.  Keadaan ini tentu akan menghambat pencapaian tujuan program pengendalian penyakit kusta.

Untuk mengatasi kendala tersebut, sangat diperlukan pendidikan dan pelatihan kepada petugas Puskesmas  yang akan bekerja 3 tahun kedepan dapat melakukan deteksi dini, pengobatan dan penanganan reaksi sehingga penderita dapat disembuhkan tanpa cacat. “Petugas  Puskesmas yang telah  mengikuti pelatihan sebaiknya giat mensosialisasikan  dan advokasi kepada masyarakat  maupun pengambil keputusan di wilayah tugas masing-masing,” harap Aisyah.
Sedangkan Panitia Mulyono menyebutkan pelatihan pengendalian penyakit kusta diikuti 19 dokter yang bertugas di 19 Puskesmas se-Kutai Timur. Tujuannya, memahami kebijakan dan strategi nasional program pengendalian penyakit kusta. Petugas paham suspek, diagnosa, klasifikasi, pengobatan pendertia serta penangana reaksi. Melakukan perawatan diri dan pencegah cacat (prevention of disability). Mengisi kartu status dan kartu monitoring penderita, serta melaksanakan penyuluhan penyakit kusta di wilayah tugas masing-masing.

Diharapkan, dokter Puskesmas memiliki kompetensi melakukan koordinasi lintas program dan lintas sektor demi memberdayakan aspek terkait. Metode pelatihan curah pendapat, ceramah dan tanya jawab, membahas  modul, penugasan, diskusi kelompok dan praktik lapangan. Master of Training (MOT) atau pematerinya dari Pusat Latihan Kusta Nasional (PLKN) Makassar dan Dinas Kesehatan Kaltim difasilitasi Dinas Kesehatan Kutim. (kmf2)