Humas Kutim

  • SUKSESKAN GERBANG DESA MADU (GRAKAN PEMBANGUNAN DESA MANDIRI DAN TERPADU)

Lom Plai di Banjiri Pengunjung - Lestarikan Ritual Budaya Asli Kutim Pariwisata

Seksiang menjadi momen pembuka puncak perayaan pesta adat lom plai. (Foto: Irfan/Humas)

 

MUARA WAHAU - Gempita Lom Plai (pesta syukur panen) di Desa Nehas Liah Bing Kecamatan Muara Wahau dipadati ratusan pengunjung. Tidak hanya dari warga adat Dayak Wehea, sejumlah pendatang dari berbagai luar Kutai Timur (Kutim) seperti dari Bontang, Samarinda, dan Tenggarong tumpah ruah menyaksikan rangkaian kegiatan ritual adat turun temurun yang dipadukan dengan tarian dan sejumlah lomba dipusatkan di area Sungai Wehea, Kamis (19/4).

Istimewanya erau tahunan ini disaksikan langsung Bupati Kutim Ismunandar didampingi Camat Irang Ajang dan Anggota DPRD Kutim Siang Geah, dan sejumlah pejabat OPD Setkab Kutim. Mengenakan miskat berwarna biru Ismu hadir di tengah warga dayak wehea dan pengunjung sekira pukul 11.00 Wita menerima pengalungan cenderamata. Dalam kesempatan itu Ismu berpesan terus melestarikan Lom Plai menjadi salah satu data tarik budaya asal Kutim tidak boleh punah.

“Lom Plai terus ada mengharumkan nama Kutim sebagai warisan leluhur yang harus dijaga kelestariannya. Dampaknya positif  ke sektor perekonomian bukan hanya ramai dikunjungi penikmat wisatawan luar Kutim maupun mancanegara tapi mendapatkan pendapatan bagi warga Wehea sekaligus garansi promosi wisata,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Adat Desa Nehas Liah Bing Ledjie Taq mengutarakan puncak acara ritual adat panen padi, sejumlah remaja muda mudi Wehea menampilkan atraksi layaknya film kolosal hollywood, Kamis. Ya, kegiatan ini bernama Enjiak Sun Setung yaitu sebuah tarian di atas rakit kayu berukuran 2,5 x 8 meter. Di kiri dan kanan diapit dua buah perahu ces membawa sang penari melintas dari hulu ke hilir sungai.

Ada 4 penari perempuan ditemani 2 penari pria yang mengangkat Mandau. Dua pemain kecapi atau sampe’ mengiringi gerak tari. Tarian ini pun menyedot perhatian warga setempat serta pengunjung di sepanjang tepi Sungai Wehea, sembari menunggu ritual adat Embos Min, atau pembersihan kampung selesai dilaksanakan.

“Dilanjutkan Seksiang, atau perang di sungai. Sekitar 14 perahu unjuk gigi dalam upacara ritual memenuhi seisi perahu dengan tombak Weheang. Satu tim perahu terdiri dari 4 orang, mereka membawa tombak Weheang terbuat dari bambu. Untuk menunjukan siapa yang paling kuat di antara mereka, semuanya berlomba mengayuh perahu ke tengah sungai dan melemparkan tombak Weheang,” ungkap Ledjie Taq.(hms13)


Berita Terkait



58 Peserta Berebut jadi yang Terbaik

SANGATTA- Pelaksanaan lomba...

Rabu, 24 Juli 2013 10:58:50

Lomba Penulisan Otda antar Pelajar di Manado

BERSAMA. Pemenang sayembara...

Rabu, 24 Juli 2013 11:02:12

Empat Orang Gepeng Diamankan

DITANYA. Anggota Satpol PP ...

Kamis, 25 Juli 2013 10:10:57

KPP Maksimalkan TPA Batota

SANGATTA- Tempat Pembuangan...

Kamis, 25 Juli 2013 10:14:58