Humas Kutim

  • SUKSESKAN GERBANG DESA MADU (GRAKAN PEMBANGUNAN DESA MANDIRI DAN TERPADU)

Karyawan KPC Sulap Opel 1999 Jadi Motrik - Melaju 100 KM Perjam, Solusi Tingginya Harga BBM Kutai Timur

KREASI KARYAWAN TAMBANG: Planner Maintenance PT KPC Eko Prasetyo menjelaskan ke awak media disela-sela tes uji mobil listrik (motrik) PT KPC. Tampak wujud Opel Blazer dilihat dari sudut samping. (Foto: Irfan/humas)




SANGATTA-Ditengah lesunya penyelesaian terkait  regulasi mobil listrik meleset dari rencana awal yang ditargetkan pemerintah melalui Peraturan Presiden (Perpres) tentang Program Percepatan Kendaraan Bermotor Listrik Untuk Transportasi Jalan (PPKBLUTJ) rampung pada awal tahun ini, kini hal itu justru kembali bergairah  di Tanah Borneo untuk pertama kalinya. 

Salah satunya inovasi yang dilakukan perusahaan tambang terbesar di Indonesia asal Kutai Timur (Kutim) yaitu PT Kaltim Prima Coal (KPC) membesut mobil listrik (motrik). Ini menjadi angin segar membangkitkan kembali semangat kreativitas anak bangsa mampu menciptakan kendaraan ramah lingkungan tidak ketergantungan lagi dengan Bahan Bakar Minyak (BBM).

Berangkat dari mobil bekas Opel (Chevrolet) Blazer tahun keluaran 1999 yang sudah tidak terpakai dan menjadi barang bekas mampu dimanfaatkan tim Engineer dan Mekanik Mining Support Division (MSD) bekerja sama dengan management health, safety, and environment system (HSES) PT KPC. Blazer terpilih menyisihkan kijang kapsul karena keunggulan bodinya yang kokoh. Selanjutnya tim mengembangkan konsep sejak 2014 lalu lewat perencanaan tahap identifikasi, dan sempat beberapa kali dilakukan penyempurnaan, dan akhirnya digunakan pada kuartal ke-3 Tahun 2017 lalu. 

Beberapa rekan jurnalis se-Sangatta tampak mencoba merasakan sensasi motrik berkode lambung POOL LS 500 warna hitam di area kawasan Bintang Lembah Hijau Swargabara operasional PT KPC, Rabu (6/6) dipandu sebagai driver tes motrik yaitu salah satu tim perancang Eko Prasetyo sebagai Planner Maintenance. Ketika memasuki ke area kabin sekilas tidak ada perubahan drastis mirip mobil pada umumnya. Namun yang mencolok diarea depan cap mesin mobil pabrikan asal Jerman itu tertanam Baterai Charger sebanyak 48 buah. Ini menjadi kekuatan utama sumber tenaga power listrik masing-masing item menggunakan baterai LBAT dengan kapasitas 180 Ah 3.2 V beserta komponennya.

“Konvensional dari BBM kita ubah menjadi mobil bertenaga listrik. Keunggulan dari motrik ini sanggup melesat di angka 100 Km Perjam, dengan daya tahan baterai mampu menempuh etape atau jarak sampai 40 Kilometer. Hal lainnya motrik ini tarikannya lebih ringan dibandingkan engine aslinya. Untuk sistem kemudi menggunakan persneling manual. Suara mesinnya hampir tak terdengar dan tidak ada asap yang keluar dari kendaraan artinya mobil ini ramah lingkungan mengurangi polusi,” kata Eko.

Ditambahkan Eko berbicara keunggulan pasti ada kekurangan dari hasil karya motrik ini bersama timnya seperti Sahirul Alim, dan Oldwan Ferdalis. Bukan permasalahan teknis kualitas motriknya akan tetapi bagaimana caranya ada orang yang berminat membeli mobil ini. Kedua yaitu harga baterainya cukup mahal dan didatangkan secara impor. Selanjutnya adalah sarana dan prasarana yaitu stasiun pengisian listrik (charger) ibarat Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) atau POM Bensin.

“Gampang-gampang susah mencari pembeli untuk tertarik dengan mobil ini pasalnya masyarakat masih awam tentang kendaraan listrik ditambah regulasi izin operasional dari pemerintah masih mandek jadi jika diproduksi massal belum bisa. Sementara itu harga satu baterai charger ini sangat mahal mencapai Rp 2 hingga Rp 3 Juta. Dan tentunya fasilitas di jalan-jalan umum terkait stasiun pengisian listrik ini belum bisa direalisasikan dalam waktu dekat, perlu proses,” tambah Eko.

Sementara itu, Superintendent Component Management, Sahirul Alim yang merupakan bagian dari tim motrik mengatakan diciptakannya motrik di lingkungan PT KPC ini berangkat dari tingginya harga BBM dan pemanfaatan energi listrik pada sistem transportasi serta isu lingkungan yang menjadi perhatian dunia. Untuk itu tim mendapatkan mandat dari managemen PT KPC membuat Pilot Project motrik.

“Proyek ini ditujukan bisa berdampak positif sosialisasi pemanfaatan mobil listrik, dalam upaya mengurangi Gas Rumah Kaca (GRK) karena tidak mengeluarkan karbondioksida (C02) dan meningkatkan kesadaran lingkungan yang bersih. PT KPC terus berinovasi di bidang konservasi energi untuk konsisten melakukan terobosan mencari energi alternatif terbarukan,” tutupnya.(hms13)


Berita Terkait



58 Peserta Berebut jadi yang Terbaik

SANGATTA- Pelaksanaan lomba...

Rabu, 24 Juli 2013 10:58:50

Lomba Penulisan Otda antar Pelajar di Manado

BERSAMA. Pemenang sayembara...

Rabu, 24 Juli 2013 11:02:12

Empat Orang Gepeng Diamankan

DITANYA. Anggota Satpol PP ...

Kamis, 25 Juli 2013 10:10:57

KPP Maksimalkan TPA Batota

SANGATTA- Tempat Pembuangan...

Kamis, 25 Juli 2013 10:14:58