Humas Kutim

  • SUKSESKAN GERBANG DESA MADU (GRAKAN PEMBANGUNAN DESA MANDIRI DAN TERPADU)

Defisit Tak Sepenuhnya Sulit - CSR Bantu Pembangunan Tetap Berjalan Nasional

Bupati Kutim H Ismunandar paparkan strategi libatkan perusahaan dalam pembangunan, saat menjadi pembicara Seminar Nasional, 40 Tahun PSPPR di Hotel University Club UMG, Yogyakarta. 
 
YOGYAKARTA - Dalam kurun waktu dua tahun kepemimpinan, Bupati Kutim H Ismunandar mengaku tantangan luar biasa telah hadir delapan bulan pertama pasca dirinya dilantik. Yakni pemotongan anggaran sebesar Rp 1,5 triliun oleh Pemerintah Pusat. Separuh anggaran Kutim raib dan APBD Kutim pun menyusut. Akibat pemotongan dana bagi hasil.

"Dengan ada potongan sebesar itu, yang kami sebut tsunami anggaran, tentunya menjadi masalah yang besar. Karena program sudah berjalan dengan anggaran yang telah ditetapkan sebelumnya," ungkap Ismu saat memenuhi undangan sebagai pembicara di Seminar Nasional garapan Pusat Studi Perencanaan Pembangunan Regional (PSPPR) Universitas Gadjah Mada (UGM), di Hotel University Club, Yogyakarta, Kamis (20/9/2018).

Dihadapan ratusan alumni UGM yang hadir, Ismu, lulusan Magister Perencanaan Kota dan Daerah (MPKD) UGM 1999 tersebut membagikan pengalaman dalam memimpin Kutim bersama Wakil Bupati. Ismu menjelaskan agar pembangunan tetap berjalan, Pemkab Kutim melalui kebijakan bupati lantas mencari berbagai solusi. Akhirnya solusi melibatkan banyak pihak jadi terobosan. Perusahaan swasta seperti tambang dan perkebunan yang ada di wilayah Kutim, diminta ikut membangun daerah. Memanfaatkan dana Corporate Social Responsibility (CSR). 

"(CSR) Inilah yang saya manfaatkan untuk menutupi kekuarangan anggaran. Semua stakeholder saya ajak untuk membicarakan  kekurangan anggaran. Ada yang menyelesaikan pembangunan sektor pendidikan, termasuk (pembangunan infrastruktur) jalan-jalan desa," ungkap Ismu yang mengaku baru tahun ini berani tampil sebagai pembicara.

Ismu mengatakan, sejak diamanahkan menjadi Bupati,  pembangunan terus dievaluasi. Ada beberapa fokus pembangunan dasar yang fokus diupayakan. Yakni pembangunan air bersih, listrik, pendidikan, kesehatan serta infrastruktur jalan. Sebagai contoh keterlibatan perusahaan dalam memenuhi energi listrik bagi masyarakat yakni, pabrik-pabrik perkebunan kelapa sawit yang kelebihan daya listrik diminta memyuplai kelebihan dayanya ke desa-desa disekitanya. 

"Contohnya seperti sekarang ini ibu kota Kutai Timur saat ini, yakni Kota Sangatta tidak byar pet lagi. Karena ada PLTU KPC yang kelebihan (daya) di suplaikan ke ibu kota," tutur Ismu. 

Bisa dikatakan hal tersebut merupakan strategi pelaksanaan pembangunan dengan memaksimalkan dana CSR pihak ketiga dengan sah. Pastinya digunakan untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat di daerah yang memerlukan. Khususnya pembangunan daerah pedesaan sesuai moto Presiden RI Joko Widodo "membangun dari pinggiran". Sebab, katanya, apabila pembangunan hanya fokus di kota, maka desa tak akan terlayani.

Lebih jauh, dihadapan para planer alumni UGM, Ismu menjelaskan bahwa kendati Kutim memiliki cadangan sumber daya alam melimpah, namun dia tetap fokus pada pengembangan Agrobisnis dan Agroindustri. 

Pembangunan kehutanan, perikanan dan pertanian serta perkebunan. Walaupun penyumbang terbesar PDBR masih pertambangan dan penggalian.

"Konsistensi terhadap perencanaan itu penting dan bagi seorang perencana harus mencari peluang, bagaimana membangun dari perdesaan termasuk kepulauan-kepulauan," jelas Ismu. (hms15) 


Berita Terkait



58 Peserta Berebut jadi yang Terbaik

SANGATTA- Pelaksanaan lomba...

Rabu, 24 Juli 2013 10:58:50

Lomba Penulisan Otda antar Pelajar di Manado

BERSAMA. Pemenang sayembara...

Rabu, 24 Juli 2013 11:02:12

Empat Orang Gepeng Diamankan

DITANYA. Anggota Satpol PP ...

Kamis, 25 Juli 2013 10:10:57

KPP Maksimalkan TPA Batota

SANGATTA- Tempat Pembuangan...

Kamis, 25 Juli 2013 10:14:58