Humas Kutim

  • SUKSESKAN GERBANG DESA MADU (GRAKAN PEMBANGUNAN DESA MANDIRI DAN TERPADU)

Program Pemberdayaan Produk Lokal Harus Berkelanjutan ! Umum & Ekonomi

Foto bersama setelah launching “Program One Village More Than One Ethnic Product Bernilai Ekonomi Secara Sustainable di Kutai Timur (Kutim)” yang dipelopori Dinas Kebudayaan. (Fuji Humas)
 
 

SANGATTA- Program Perubahan “Program One Village More Than One Ethnic Product Bernilai Ekonomi Secara Sustainable di Kutai Timur (Kutim)” yang dipelopori Dinas Kebudayaan mendapat dukungan dari berbagai pihak. Program yang mengambil wilayah percontohan di Dusun Rindang Benua, Kecamatan Sangatta Selatan ini mendapat apresiasi dari Camat Sangatta Selatan Hasdiah.

“Tetapi jangan setelah diluncurkan program berhenti. Bahkan jika (kemungkinan nantinya) tak ada dana pun program harus berjalan,” pinta Hasdiah tegas. 

Dia yakin program pemberdayaan masyarakat dengan penguatan pengelolaan produk kearifan lokal di daerahnya ini dapat membantu meningkatkan perekonomian masyarakat. Maka dari itu dia mengajak seluruh masyarakatnya bersama-sama bergotong royong menyukseskan program dimaksud.

Kegiatan yang mengusung tema "Kolaborasi Stakeholder Dalam Pemberdayaan Masyarakat di Dusun Rindang Benua, Menuju Masyarakat Mandiri Secara Ekonomi Secara Ekonomi Berkelanjutan" ini juga mendapat dukungan dari Anggota DPRD Kutim Uce Prasetyo. 

“Program ini, merupakan program yang patut diacungi jempol. Karena mengembangkan produk ekonomi yang tentunya bisa dijadikan acuan untuk kemajuan daerah dan bangsa secara umum,” katanya.

Selanjutnya dia mengajak masyarakat lebih meningkatkan produk lokal untuk konsumsi pokok. Sehingga bangsa ini menjadi kuat secara ekonomi. Tugas masyarakat berikutnya adalah menanamkan kepada generasi muda rasa mencintai dan bangga terhadap produk sendiri. Untuk itu diapun mengajak masyarakat untuk lebih mengedepankan menciptakan produk sendiri dan tidak bergantung produk luar negeri.

Kepala Bidang Pengembangan Kebudayaan Disbud Tatiyana Ester Putinoto Panjaitan selaku Ketua Panitia menjelaskan, proyek perubahan ini akan dilaksanakan di Dusun Rindang Benua , Desa Sangatta Selatan, Kecamatan Sangatta Selatan. Masyarakat Dusun Rindang Benua memiliki product Ethnic yang tidak hanya satu, seperti Tanaman Obat yaitu Bawang Dayak atau Bawang Tiwai, Juga Alat Masak dari Kayu limbah Ulin, Pakaian dari Kulit Kayu, Asesoris Manik- manik, Tanaman Penyedap Rasa Tradisional dan lainnya. Sesuai pengamatan langsung dilapangan, satu kampung di Dusun Rindang Benua ternyata memiliki bukan hanya satu produk budaya bahkan lebih. Dusun Rindang Benua sebagai pilot project kegiatan ini terdiri dari 80 KK. Memiliki bahan baku Bawang Tiwai sebagai obat tradisional dan 70 persen masyarakatnya menanam Bawang Dayak atau Bawang Tiwai sebagai obat. 

“Diharapkan setelah dimulainya lauching Proyek Perubahan ini dapat terwujud produk budaya yang bernilai ekonomi tinggi dan berlangsung secara berkesinambungan,” harapnya. 

Tak lupa ia menjelaskan kolaborasi Stakeholder dalam kerjasama antara lain Dinas Kebudayaan mencari dan menggali serta mengembangkan produk berbasis budaya untuk ditingkatkan menjadi industri kreasi berbasis budaya. Dengan mengajak lintas sektor untuk mewujudkannya. Masyarakat Dusun Rindang Benua menanam Bawang Tiwai sebagai bahan baku dan produk etnik lainnya. Perusahaan Community Empowermentnya membimbing dan membina masyarakat. Sehingga hasil product Bawang Tiwai dan lainnya  dapat dikemas dan dipasarkan untuk meningkatkan pendapatan keluarga. Conservation Agribusiness Development menjadi pembimbing dan pembina di bidang agribisnisnya dalam bidang pengembangan tanaman melalui penguatan Dasawisma bekerjasama dengan TP PKK desa. Tim Penggerak PKK dari Kabupaten, Kecamatan sampai ke TP PKK Desa membentuk Dasawisma, membimbing administrasi  sederhana menuju pra koperasi sehingga terbentuk UP2K yang mandiri. Memasyarakatkan penanaman lahan pekarangan, pemanfaatan TOGA atau tanaman obat keluarga. Selanjutnya Dinas Koperasi membimbing terbentuknya koperasi yang mandiri, Dinas Perdagangan dan Perindustrian mendukung peningkatan  industri rumah tangga, pemberian label halal dan lainnya. Selanjutnya Dinas Kesehatan membantu proses  izin PIRT-nya, menentukan jenis usaha rumah tangga apakah olahan makanan atau obat tradisional. Dinas Pertanian memberikan penyuluhan dalam penanaman lahan pertanian. Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa melakukan pembinaan  Bumdes dan lainnya. Pihak Kecamatan, Desa dan Dusun sebagai pelaksana utama kegiatan berperan aktif dalam terlaksananya program. BPR Kutai Timur atau perbankan memberikan pinjaman modal dengan bunga yang ringan.

“(Kemudian) Yang tidak kalah penting lagi DPRD Kutim menyetujui anggaran untuk terlaksananya kegiatan,” katanya. (hms3)




Berita Terkait



58 Peserta Berebut jadi yang Terbaik

SANGATTA- Pelaksanaan lomba...

Rabu, 24 Juli 2013 10:58:50

Lomba Penulisan Otda antar Pelajar di Manado

BERSAMA. Pemenang sayembara...

Rabu, 24 Juli 2013 11:02:12

Empat Orang Gepeng Diamankan

DITANYA. Anggota Satpol PP ...

Kamis, 25 Juli 2013 10:10:57

KPP Maksimalkan TPA Batota

SANGATTA- Tempat Pembuangan...

Kamis, 25 Juli 2013 10:14:58