Sejarah Singkat Kabupaten Kutai Timur

            Landasan untuk memekarkan Kabupaten Kutai karena rentang kendali pemerintahan dan pembangunan terluas, dibentuk wilayah kerja Pembantu Bupati dan Kota Administrasif Bontang. Keinginan Pemerintah Kabupaten Kutai itu tertuang dalam keputusan DPRD Kutai Nomor  170/ -03/57/01/1997 tanggal 7 Februari 1999 tanggal 31 Maret 1999.  Sejumlah Perguruan tinggi terlibat dalam pemekaran Kabupaten Kutai Timur  di antaranya Universitas Kutai Kartanegara Tenggarong dan Universitas Gajah Mada Yogyakarta

            Setelah Reformasi bergulir, ide untuk memekarkan Kutai kembali mencuat dan mendapat respon Pemerintah Pusat dan DPR-RI, sehingga lahirlah UU No. 47 Tahun 1999. Dalam sidangnya DPR-RI pada 4 Oktober 1999 menyetujui kawasan kerja Pembantu Bupati Wilayah Muara Wahau yakni Kecamatan Muara Bengkal, Muara Ancalong, Muara Wahau, Sangkulirang dan Sangatta sebagai wilayah Kabupaten Kutai Timur, kemudian sebagai ibukota Kecamatan adalah ditetapkan di Sangatta.

            Pada tanggal 12 Oktober 1999 oleh Mendagri ad interm - Faisal Tanjung bertempat di Departemen Dalam Negeri Republik Indonesia, Kabupaten Kutai Timur resmi berdiri ditandai dengan penandatanganan prasasti serta pengangkatan Drs. H. Awang Faroek Ishak MM M.Si sebagai pejabat Bupati.

Bupati Kutai Timur defenitif pertama dilantik pada tanggal 13 Pebruari 2001, H. Awang Faroek Ishak dan H. Mahyudin, ST sebagai Bupati dan Wakil Bupati Kutai Timur oleh Gubernur Kalimantan Timur Suwarna AF. Kemudian pada tanggal 23 Mei 2003 H. Mahyudin, ST, MM menggantikan H. Awang Faroek Ishak sebagai Bupati Kutai Timur yang dilantik oleh Gubernur Kalimantan Timur Suwarna Abdul Fatah.

Berkembangkan demorkasi, Awang Faroek Ishak dan Isran Noor kembal maju mencalonkan sebagai bupati Kutai Timur untuk periode 2006-2011 dan terpilih serta pada tanggal 13 Februari 2006 H. Awang Faroek Ishak dilantik bersama H. Isran Noor menjadi Bupati dan Wakil Bupati Kutai Timur.

Di tengah perjalanannya, Awang Faroek mencalonkan diri sebagai Gubernur Kalimantan Timur dan terpilih menjadi orang nomor satu di provinsi Kaltim. Kemudian Isran Noor menggantikan Awang Faroek sebagai bupati hingga masa jabatan selesai.

Dan, setelah proses demokrasi berjalan, Isran Noor kembali mencalonkan diri berpasangan dengan H Ardiansyah Sulaiman dan terpilih menjadi Bupati dan Wakil Bupati Kutai Timur untuk periode 2011-2016 dan dilantik oleh Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak pada tanggal 17 Pebruari 2011.

Pada tanggal 30 Maret 2013 H. Isran Noor mengundurkan diri dan digantikan oleh Drs. H. Ardiansyah Sulaiman sebagai pelaksana tugas Bupati Kutai Timur dan dilantik menjadi Bupati definitif pada tanggal 8 Juni 2015.

Saat Kutai Timur menggelar pesta demokrasi pada Desember 2015, Ir. H. Ismunandar, MT bersama Kasmidi Bulang, ST, MM mencalonkan diri dan terpilih untuk memimpin Kutai Timur periode lima tahun ke depan. Pada tanggal 17 Februari 2016 pasangan Ismu-KB (sebutan Ismunandar dan Kasmidi Bulang) dilantik oleh Gubernur Kalimantan Timur Awang Faroek Ishak di Samarinda, bersama bupati/walikota dan wakil bupati/wakil walikota se-Kaltim.

Kabupaten Timur dengan luas wilayah 35.747,50 Km2 17% dari luas Kaltim, pada awalnya berdiri ada 5 kecamatan dengan 54 desa. Kemudian pada tahun 2000, Kabupaten Kutai Timur dimekarkan menjadi 11 Kecamatan, dengan 116 desa dan di tahun 2005 dimekarkan kembali menjadi 18 kecamatan dan 135 desa. Kemudian jumlah desa itu kembali dimekarkan dan hingga sekarang menjadi 140 desa dan 2 kelurahan. Sedangkan jumlah penduduk yang semula sekitar 200 ribu jiwa, hingga sekarang menurut data di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Kutai Timur jumlahnya mencapai sekitar 414 ribu jiwa dengan kepadatan penduduk rata-rata 4,74 jiwa

   

Kabupaten Kutai Timur adalah salah satu kabupaten di Provinsi Kalimantan Timur, Indonesia. Ibu kota kabupaten ini terletak di Sangatta. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 35.747,50 km²[3] atau 17% dari luas Provinsi Kalimantan Timur dan berpenduduk sebanyak 253.847 jiwa (hasil Sensus Penduduk Indonesia 2010) dengan kepadatan 4,74 jiwa/km² dan pertumbuhan penduduk selama 4 tahun terakhir rata-rata 4,08% setiap tahun.

 

Geografi

Dengan luas wilayah 35.747,50 km², Kutai Timur terletak di wilayah khatulistiwa dengan koordinat di antara 115°56'26"-118°58'19" BT dan 1°17'1" LS-1°52'39" LU

 

Topoggrafi

Kutai Timur memiliki keadaan topografi yang bervariasi, mulai dari daerah dataran seluas 536.200 ha, lereng bergelombang (1,42 juta ha), hingga pegunungan (1,6 juta ha), tersimpan potensi batu bara 5,35 miliar ton.[4]

 

Kecamatan

Terdapat 18 kecamatan di Kutai Timur saat ini, yaitu: [3]

  1. Batu Ampar
  2. Bengalon
  3. Busang
  4. Kaliorang
  5. Karangan
  6. Kaubun
  7. Kongbeng
  8. Long Masengat
  9. Muara Ancalong
  10. Muara Bengkal
  11. Muara Wahau
  12. Rantau Pulung
  13. Sandaran
  14. Sangatta Utara
  15. Sangatta Selatan
  16. Sangkulirang
  17. Telen
  18. Teluk Pandan

 

 

Kabupaten Kutai Timur dengan Ibu Kota Sangatta memiliki luas wilayah 35.747.60 km2 atau 17 % dari luas Wilayah Provinsi Kalimantan Timur. Sejak terbentuk melalui undang-undang nomor 47 tahun 1999 dan diresmikan Mentri Dalam Negri tanggal 28 Oktober 1999. Kutai Timur terus bergeliat membangun jati diri dan semakin menunjukan eksistensi sebagai Kabupaten baru yang mampu mengelola pemerintah daerah dan melaksanakan pembangunan di segala bidang dengan segala potensi, masalah dan tantangan yang dimiliki.

Perlahan namun pasti Kutai Timur terus melakukan pembangunan di segala bidang mulai meretas rentang kendali pelayanan masyarakat dengan memekarkan kecamatan yang tadinya 5 kecamatan dengan 92 desa menjadi 11 kecamatan dengan 102 desa dan sekarang bertambah menjadi 18 kecamatan dengan 135 desa.

Jumlah penduduk yang menurut hasil pendataan sensus penduduk tahun 2000 sebanyak 146.510 jiwa, hasil registrasi tahun 2009 mengalami penambahan 73.136 menjadi 219.646 jiwa, atau mengalami laju pertumbuhan rata-rata 5.57 %, angka ini diatas rata-rata angka laju pertumbuhan penduduk provinsi dan Nasional.

Pesatnya pertumbuhan penduduk tersebut lebih karena migrasi masuk dari daerah lain dengan alasan ekonomi atau mencari pekerjaan baik secara perseorangan maupun tumbuhnya investasi dan lapangan usaha dalam berbagai sektor ekonomi, baik sektor primer, sekunder, maupun tersier, mulai dari sekala usaha mikro, kecil menengah sampai besar.

Kini dengan usia yang remaja, Kutai Timur terus tumbuh dan berkembang menjadi Kabupaten yang maju, dan mencuri perhatian berbagai kalangan. Bagai remaja belia, Kutai Timur terus berdandan agar terkihat cantik dan diincar para penggemarnya. Mulai dari infrastruktur hingga pembangunan sumber daya manusia secara bertahap terus dilaksanakan.

Pembangunan di segala bidang terlihat dimanan-mana, kecamatan dan desa-desa yang jauh dan terisolir mulai dapat di jangkau dengan jalan dan jembatan yang terus dibangun dan terus bertambah hingga kepelosok-plosok terpencil, pasilitas pelayanan masyarakat melalui dari kawasan pusat pemerintahan Bukit Pelangi yang indah dan modern, kantor kecamatan dan kantor desa yang semakin lebih baik, sekolah-sekolah di semua kecamatan dan desa, rumah sakit dan puskesmas dengan fasilitas memadai, pusat kota yang kian tertata dan berkembang serta sarana olahraga yang megah.

Pembangunan pertanian ditandai dengan berkembangnya perkebunan yang menghias bukit dan lembah, berkembangnya pertanian tanaman pangan dengan dibangunnya bendungan dan irigasi, berkembangnya perikanan dan peternakan, itu semua menjadi pertanda bahwa pertanian telah benar-benar mengambil posisi sebagai ” sektor andalan” dalam pembangunan ekonomi kerakyatan berbasis sumberdaya alam yang terbuka.

Bupati Kutai Timur Ismunandar dan Wakil Bupati Kasmidi Bulang sepakat dan sesuai visi dan misinya, ingin membangun wilayah iniu mulai dari desa. Motto yang didengungkan adalah Gerbang Desa Madu (Gerakan Pembangunan Desa Mandiri dan Terpadu), dan hal ini sejalan dengan nawacita presiden Joko Widodo, yakni membangun dari pinggiran.