Bupati H Ismunandar memberikan sambutan di depan peserta seminar adat (foto: wahyu humas kutim)

SANGATTA – Semua elemen masyarakat memiliki andil sesuai peranan masing-masing dalam memajukan pembangunan perekonomian. Termasuk paguyuban dan lembaga adat di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) lainnya. Hal itu juga disadari oleh Bupati Kutim H Ismunandar.

Untuk itu Ismu, sapaan akrab Bupati, berharap lembaga Adat Besar Kutai (ABK) juga harus lebih memiliki peran penting dalam masyarakat. Agar dapat meningkatkan perekonomian masyarakat Kutai Timur dan terlebihnya dapat menyejahterakan masyarakat. 

“Kita harus memberi perhatian lebih kepada masyarakat dalam masalah sosial yang dialami. Dengan peran (dan kerjasama) seluruh stakeholder, masyarakat adat serta pemerintah demi mewujudkan kesejahteraan,” kata Ismu saat membuka seminar adat yang diselenggarakan diruang Tempudau Kantor Seketariat Kabupaten (Setkab) Kutim, Kamis,(7/2/2019)

Seminar ini turut mengundang seluruh pemangku adat di Kutim dan para pimpinan perusahaan terutama PT Kaltim Prima Coal (KPC). Mengusung tema “Membangun Wibawa Adat Dalam Kebersamaan Demi Mendukung Pemerintah Kabupaten Kutai Timur”.

Wakil Bupati H Kasmidi Bulang dan Sekretaris Kabupaten turut hadir dalam acara pembukaan seminar adat.  Seluruh peserta nampak antusias mengikuti kegiatan hingga usai.

Ketua ABK Sayyid Abdal Nanang, saat itu menyampaikan terima kasih atas dukungan Pemkab Kutim dan bantuan dana Corporate Social Responsibility (CSR) dari PT KPC kepada pihaknya. Karena sangat mendukung program-program kegiatan dari ABK. Seperti seminar adat, bantuan seluruh paguyuban di Kutim dan memberikan beasiswa kepada siswa siswi, mahasiswa dan mahasiswi Kutim. Program lainnya yang terus dikembangkan oleh ABK yakni guna mendukung pengembangan program perkebunan, pertambangan dan askes pariwisata diwilayah Sangatta Selatan. Yakni Tanjung Prancis. Pastinya dukungan dana CSR bakal digunakan untuk seluruh program yang tepat sasaran.

“Tak lupa kami berterima kasih atas CSR dari PT KPC yang sebelumnya (2018) memberikan sebesar 500 ribu US Dollar dan sekarang (2019) mendapatkan 1,5 juta US Dollar,” kata Abdal. 

Terakhir,  Abdal Nanang menyebut bahwa sektor parawisata takkan besar tanpa partisipasi masyarakat adat dan peran pemerintah serta stakeholder lainnya.

Basuki Isnawan sebagai narasumber acara seminar adat memaparkan, membangun ekowisata tidaklah sulit. Yakni dengan memanfaatkan budaya yang sudah ada untuk memikat para wisatawan domestik dan mancanegara. Suguhan utama harusnya budaya. Setelah itu baru diikuti potensi alamnya. Karena sesungguhnya alam Kalimantan sama semua, hanya yang membedakan adalah budaya. 

“Disitu ciri khas yang membedakan setiap daerah, hal seperti itu yang dicari oleh turis mancanegara. Saya setuju dengan acara lom plai (jadi ciri khas budaya Kutim). Sebab hudoq di pesta adat Lom Plai beda dengan hudoq pekayang di Mahakam ulu. Kutim bisa manfaatkan budaya tersebut,” tutur Basuki memberi saran. (hms7)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like

Da’i Pembangunan dan Pemkab Kutim Satu Tujuan !

Saat pengalungan tanda peseta mengikuti pembekalan Da’i Pembangunan.(Foto: