Seminar Nasional PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) 2019 sekaligus Konfersi Cabang (Konfercab) ke V PMII di Ruang Meranti, Kantor Bupati Kutim. (Wahyu Humas)

SANGATTA – Ruang Meranti, Seketariat Kabupaten (Setkab) Kamis (14/02/2019), serasa menjadi aula perguruan tinggi Islam. Sejak pagi sudah dipenuhi santri dan mahasiswi berhijab. Ternyata pagi itu dilaksanakan Seminar Nasional PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) 2019 sekaligus Konfersi Cabang (Konfercab) ke V PMII.

Pihak panitia hari itu menghadirkan Kh Ahmad Baso untuk mengisi seminar bertema “Eksistensi Islam Nusantara Melawan Gerakan Ghazwul Fikri”.

Ketua Majelis Pembina Cabang (Mabin) PMII, Mukthar, menerangkan bahwa kegiatan seminar berlangsung selama tiga hari. Seminar ini bertujuan mengajak pemuda pemudi untuk bisa bangkit dari rasa keterpurukan. Sehingga bisa menjadi calon-calon pemimpin masa depan untuk Kutim dan Indonesia.

“Sebab hanya dari generasi yang memiliki gagasan dan kesempatan, yang dapat bersaing. Konfercab adalah untuk penambah gagasan bagi pemuda pemudi Kutim dan Indonesia pada umumnya, (bahwa) pemimpin tidak hanya butuh gagasan dan kesempatan tetapi jangan lupakan momentum,” jelas Mukthar.

Sementara itu Kabag Sosial Setkab Kutim mewakili Bupati Kutim, Andi Abdul Rahman berharap PMII tidak hanya menjadi pionir kaderisasi saja. Tetapi juga mengawal proses demokrasi sebagai subjek dari demokrasi itu sendiri.

“Harapan PMII kedepannya terus menjadi lebih baik,” harapnya.

KH Ahmad Baso pada saat seminar banyak menyampaikan materi tentang buku-buku yang pernah ia tulis. Termasuk buku studies dan intelektual muda NU. Berkaitan dengan tema seminar, Ahmad Baso menjelaskan beberapa hal tentang akibat pengaruh Ghazwul Fikri atau invasi intelektual. Yaitu bentuk perang pemikiran dari orang-orang yang benci dan memusuhi Islam. Serangan atau serbuan pemikiran ini bertujuan merubah pola pikir dan sikap seorang muslim untuk pelan-pelan mengikuti pemikiran dari musuh-musuh Islam. Diantaranya barat, dalam menghancurkan kaum muslimin.

“Perang pemikiran atau Ghazwul Fikri ini adalah cara lain dari musuh-musuh Islam, dalam menghancurkan pelan-pelan. Tanpa disadari dengan mencuci otak kaum muslimin. Ini akibat mereka tidak mampu menghancurkan dan mengalahkan umat Islam secara perang fisik,” ujarnya.

Namun, kata Ahmad Baso menambahkan, tradisi Islam Nusantara dipraktikkan sebagian besar rakyat Indonesia. Seperti tradisi maulidan, tahlilan dan lainnya untuk melawan budaya barat tersebut.

“Sederhananya adalah Islam Nusantara didefinisikan sebagai penafsiran Islam yang mempertimbangkan budaya dan ada istiadat lokal Indonesia dalam merumuskan fikihnya,” pungkas Ahmad Baso. (hms7)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like

Da’i Pembangunan dan Pemkab Kutim Satu Tujuan !

Saat pengalungan tanda peseta mengikuti pembekalan Da’i Pembangunan.(Foto: