Ketua DWP Kutim Sri Andayani Irawansyah menyampaikan sambutan pada pelatihan parenting, diruang Arau, Kantor Bupati (Foto: Wak Hedir Humas)

SANGATTA – Era millennial sangat erat dengan dunia digital. Kemajuan teknologi bisa berdampak positif namun juga melahirkan sisi negative. Khususnya jika teknologi digital disalah gunakan oleh generasi muda tanpa pengawasan orang tua. Sebagai upaya preventif agar anak tetap tumbuh kembang dengan baik pada usia emasnya di era saat ini, Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Pemkab Kutim) melalui Dinas Pendidikan bekerjasama dengan Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kutim, menggelar pelatihan parenting bagi ibu-ibu, Selasa (5/3/2019) diruang Meranti, Kantor Bupati.

Ketua DWP Kutim Ny Sri Andayani Irawansyah mengatakan usia dini merupakan tahap awal untuk mencapai kepribadiaan yang stabil. Oleh karena itu, perkembangan emosi dan prilaku diusia dini harus mendapat perhatian yang optimal. Baik dari sikap dan prilaku dimasa-masa yang akan datang.

Untuk itu, lanjutnya, diperlukan perhatian guru maupun orang tua. Karena aspek emosional ibarat poros kehidupan manusia. Jika anak terganggu emosi, maka terganggu pula emosi kehidupan yang lain.

“Perkembangan emosi yang optimal akan berdampak positif baik bagi anak. Karena anak akan memiliki kecerdasan emosi yang tinggi,” ucap Sri pada kegiatan yang dibuka Sekretaris Kabupaten Kutim H Irawansyah mewakili Bupati.

Program parenting diikuti ibu-ibu yang tergabung dalam DWP serta organisai wanita lainnya. Menurut Sri, kecerdasan emosi adalah kemampuan seorang untuk mengenali, mengelola dan mengontrol emosi agar merespon secara positif, setiap kondisi yang menimbulkan emosi. Dengan mengajari anak terampil mengelola emosinya, mereka akan mampu mengatasi rintang-rintangan emosi dalam kehidupan sehari-hari.

Dia berharap, setelah kegiatan tersebut para orang tua dapat memahami dan mempraktikkan bagaimana mengelola emosi anak dengan baik, diera digital ini.

Perlu diketahui, perkembangan emosi anak sendiri sangat terkait erat dengan perkembangan aspek-aspek penting lainnya seperti perkembangan motorik dan juga perkembangan kognitif anak. Hal pertama yang perlu dicermati adalah perkembangan psikologi khususnya psikososial Erikso. Ada pada dua tahap dasar yang saling bertentangan. Pertama adalah rasa malu dan ragu-ragu versus otonomi. Terakhir adalah rasa bersalah versus inisiatif. Perkembangan emosi pada anak sendiri sebenarnya merupakan perkembangan perasaan yang bersifat psikologi yang diawali dari perasaan secara fisik. (hms15)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like

Peringatan HUT Ke-20 DWP di Kutim – Digelar Sederhana Namun Penuh Cinta

Bupati H Ismunandar saat membaca puisi dari istri