Kepala Dinas Pertanian, Sugiono menyampaikan sambutannya pada kegiatan Training of Trainer Petani Kelapa Sawit Rakyat Menuju Sertifikasi Berlelanjutan (Foto: Vian Humas)

SANGATTA-  Kualitas dan tata kelola  industri kelapa sawit yang suistanable (berkelanjutan) masih menjadi isu penting bagi pasar ekspor eropa. Untuk itulah Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Pemkab Kutim) bekerjasama dengan  Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit GmbH  (GIZ) menggelar pelatihan pendamping petani sawit guna peningkatan kapasitas SDM dan sistem pengelolaan industru sawit berkelanjutan. Hal itu disampaikan Kepala Dinas Pertanian, Sugiono pada kegiatan Training of Trainer Petani Kelapa Sawit Rakyat menuju Sertifikasi Berkelanjutan di Hotel Victoria,Senin(9/9/2019).

Sugiono menjelaskan bahwa komoditas produk kelapa sawit asal Indonesia diakui masih sangat dibutuhkan di Uni Eropa (UE). Hanya saja, produk yang diinginkan perlu memiliki standar mutu dan proses produksi yang baik.

“Ada beberapa standar yang diwajibkan agar ekspor sawit bisa menembus pasar uni eropa terkait isu lingkungan hidup, konservasi hutan dan lahan, pengelolaan ramah lingkungan termasuk sertifikasi produk kelapa sawit hingga ke petani kecil,” jelas Sugiono.

Lebih lanjut, Sugiono menjelaskan bahwa peningkatan kualitas ekspor kelapa sawit harus dilakukan secara komprehensif (menyeluruh) baik dari kapasitas SDM maupun manajemen pengelolaan kelapa sawit.

“Harus ada ilmu khusus dalam pengelolaan kepala sawit yang berkelanjutan ini, baik produsen maupun SDM-nya. Ini  pelatihan yang pertama dan target awalnya semua  penyuluh di kecamatan punya lisensi atau bersertifikasi,” tegasnya.

Sebelumya Asisten Trainer dari Forum Petani Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia (Forbasi) sebagai mitra GIZ, Novia Ayu menyebutkan bahwa ada beberapa materi yang akan diberikan kepada seluruh peserta pelatihan ini untuk memiliki sertifikasi.

“Terkait keberlanjutan dan perbaikan tata kelola kelapa sawit Pemerintah Indonesia  menerbitkan Sistem Sertifikasi Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia (Indonesian Sustainable Palm Oil/ISPO) pada 2011 yang kemudian diperbaiki pada Tahun 2015, ini materi pertama yang kedua adalah RSPO (Roundtable on Suistanable Palm Oil) yakni prinsip –prinsip pengelolaan kelapa sawit yang berkelanjutan diantaranya komitemen transparansi, memenuhi kaidah hukum yang berlaku, kelayakan ekonomi dan keuangan jangka penjang, kelestarian alam dan keanekaragaman hayati, minimalisasi dampak lingkungan akibat penggunaan pestisida, tanggung jawab keseluruh pihak yang berdampak dari usaha perkebunan serta dinamika kelompok,” jelas Ayu.(hms4)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like

ISPO Jadi Standar Tembus Pasar Sawit Eropa – Pemkab Kutim dan GIZ Lakukan Pendampingan ke Petani

Bupati Kutai Timur, Ismunandar didampingi Wakil Bupati Kasmidi